Hari ini, seperti biasa saya selalu melakukan kegiatan rutin setiap pagi. Mulai dari bangun tidur, mandi, sarapan ( bila nafsu ) berdandan, memilih dan memakai baju yang sesuai keinginan yang mana yang akan saya kenakan. Setelah itu sambil menunggu ayah saya yang bersiap siap mau mengantarkan saya ke tempat saya mencari uang, saya memakan bubur ayam yang sengaja ibu saya belikan untuk saya makan pagi itu.
Setelah semua nya selesai pagi itu saya buru-buru bergegas untuk pergi ke kantor saya. Kegiatan rutin saya selain yang sudah saya sebutkan di atas itu adalah mengunci kamar dan menaruh kunci kamar tersebut di dalam tas. Sesampainya saya di kantor, seperti orang-orang kantor kebanyakan saya menyalakan computer kantor saya dengan penuh suka cita dan yaa seperti biasa saja .
Saya bekerja di salah satu EO ( Event Organizer ) di Bekasi dan di tempatkan & di percaya sebagai orang keuangan yang mengurus segala administasi di kantor tersebut. Mula nya saya iseng bekerja disitu saat di tawarkan oleh kakak saya yang sebelumnya pernah bekerja disitu. Namun lama kelamaan saya mulai tertarik bekerja dan bergabung di dalam EO tersebut. Mulai dari orang kantor nya, sampai freelancer nya semua baik-baik dan tidak ada yang saya tidak suka. Bagaimana saya tidak suka kalau bukan dari sini, dari kantor ini saya bertemu dengan orang yang benar-benar sudah merubah kehidupan saya secara tidak langsung dan langsung. Hhehe…
Saya panggil dia Bp. Direktur Utama hati saya.. :D karna dia yang saya harap memimpin, mengayomi, menjaga saya. Bertemu dan menjadi kekasih hatinya membuat saya belajar bertanggung jawab, professional dan membuat saya rajin bekerja karna hamper setiap hari ( dari senin sampai jum’at saya bertemu dengannya )
Ada perasaan berbeda memang, menjalin kasih dengan seorang yang belum bias berpikir dewasa dengan yang sudah bias berpikir dewasa dan matang seperti dia. Dia ulet, rajin, dan tak pantang lelah membuat saya dan keluarga saya jatuh hati pada nya. Tak hanya itu saja, di tiap ada acara event dari perusaahan lain yang meminta jasa EO kami sebagai pengurus jalannya acara tersebut, dia selalu diminta menjadi coordinator atau leader. Dan jujur saja melihat dan mendengarkan dia berbicara di depan orang lain itulah awal saya jatuh cinta pada lelaki tersebut.
Walaupun saya satu kantor dengan dia, tapi kami berusaha bersikap professional dan tidak membawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan kami, walau kadang akhir nya saya yang kalah daripada dia, karna saya yang leih banyak tidak bersikap professional dan arogan.
Seperti biasa, pagi itu saya merapihkan data dan menyiapkan slip slip bank yang bertebaran di meja. Karna pekerjaan saya berhubungan dengan uang, uang dan uang, maka setiap hari saya harus bolak balik kantor-bank, bank-kantor, belum lagi kalau bank itu penuh dan harus mengantri berjam-jam dengan keadaan berdiri tanpa duduk rapi seperti anak TK.
Sebenarnya sudah banyak macam-macam bank yang menawaran kenyamanan nasabahnya dengan memberikan kursi-kursi pada setiap tempat duduknya, tapi setiap hari saya heran kenapa bank langganan saya ini tidak pernah ada kemajuan sedikit untuk memberikan kenyamanan pada nasabahnya agar separuh keuntungannya di belikan kursi atau semacamnya untuk menunjang kenyamanan tersebut. Tapi itu tak pernah saya pikirkan karna pada umumnya orang-orang, instansi dan tempat-tempat berbelanja pada umumnya selalu memakai layanan bank tersebut karna mudah dan cepat digunakan sebagai transaksi pembayaran, dan saya pun tak memungkiri hal tersebut.
Hari itu tugas saya bukan pergi ke 1 bank saja melainkan harus pergi ke 3 bank yang jaraknya berbeda-beda dan cukup jauh. Saya memutuskan untuk pergi ke bank siang karna pikiran saya, orang-orang yang ke bank di jam tersebut akan sedikit di jam makan siang karna untuk setiap orang masalah perut adalah kebutuhan yang paling utama.
Panas betul siang itu, karna saya sendiri mengendarai motor dan itu sudah biasa sih padahal ..heheh
Setelah selesai dari bank karna sudah lewat dari jam makan siang, saya memikirkan perut saya yang sudah keroncongan meminta untuk di beri makan, oleh sebab itu saya mampir ke warung padang di pinggir jalan untuk membeli nasi padang dengan lauk rendang lalu di bungkus untuk di bawa pulang, karna jarak rumah dan kantor saya tidak jauh dan jalannya juga searah dari rumah saya, saya memutuskan untuk memakan nasi bungkus itu dirumah.
Sesampainya dirumah, saya melahap makanan itu dan saya mulai berpikir janggal. Seperti memang ada yang mengganjal di otak saya, tapi belum tahu itu apa. Saya ada pikiran untuk ke kamar namun saya malas karna berpikir akan “ribet” . oleh karna itu saya mengurungkan niat saya untuk ke kamar dan kembali lagi ke kantor dan melanjutkan kembali pekerjaan saya di kantor.
Saat waktunya jam pulang kerja, saya segera melaju kerumah sambil mengendarai kuda hitam saya ( motor ) seperti biasa saya mengambil kunci dari dalam tas untuk membuka pintu kamar yang sejak pagi di kunci tanpa penghuni. Kaget dan panic… !!! kunci ku hilang !!!!! aduuhh.. ya ampuunn..dimana .. !!! dimana kunci ku … !!! pikiran akan di marahi dan diomeli oleh ayah dan ibu ku tiba-tiba datang begitu saja. Karna seperti biasa sifat teledor saya kambuh dan Ahhh…saya langsung lemas … L
Saya mulai menelpon Bp. Direktur tapi hasil nihil dan dia tak menemukan apa2 di kantor. Saya akhirnya putus asa dan menceritakan semuanya yang terjadi ke ayah ibu. Benar saja, karna keteledoran saya, saya jadi dimarahi. Huhuhuhuh…
Tak ada jalan lain yang harus di tempuh yaitu mendobrak pintu kamar. “Ah rusak dah pintu kamar gue, rusak dah…rusak dah.” Dan BRAKK, BRAKKK…ayah saya mendobrak pintu saya dua kali .. memang terbuka sih tapi jadi hancur pinggir2nya..seperti tidak ada harapan lagi untuk bias di pasang kunci lagi. Akhir nya saya masuk kamar juga dan mengendurkan otot-otot saya yang tadi menegang karna panic..baru saja meluruskan kaki ke tempat tidur, Bp. Direktur Hati Saya tiba-tiba mengirim pesan dan memberitahu saya kalau dia mimisan. Saya panic bukan main, dan langsung menelpon dia..tapi dia sibuk dengan mimisannya tersebut. Tidak tahu emosi yang berlebihan atau apa, saya menangis dan .. yah begitu deh. Saking panic bukan mainnya itu, dia tidak tahu bagaimana saya memikirkannya pada saat itu. Namun setelah dia menjelaskan kalau dirinya sudah tidak apa-apa, saya mulai tenang dan mulai menulis cerita ini………………………………………..